"Ing Ngarso Sung Tulodo (Di depan memberi teladan), Ing Madyo Mangun Karso (Di tengah membangun semangat/karsa), dan Tut Wuri Handayani (Di belakang memberikan dorongan)".
Selamat Hari Pendidikan Nasional!
Semoga Indonesia lebih maju sebagai bangsa!
Gegap gempita peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei diseluruh pelosok negeri . Hari Pendidikan Nasional bukan lagi semata-mata tentang memberantas buta huruf alfabet, melainkan tentang memberantas "buta teknologi" dan "buta nalar kritis". Di era di mana Kecerdasan Buatan Generatif (Generative AI) telah terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari, tantangan pendidik dan peserta didik telah berubah bentuk secara drastis. Atau yang sering di lupal yang dikenal akar dari Pendidikan Nasional yang dikenal 3 semboyan, adapun Tiga semboyan tersebut adalah: Ing Ngarso Sung Tulodo (Di depan memberi teladan), Ing Madyo Mangun Karso (Di tengah membangun semangat/karsa), dan Tut Wuri Handayani (Di belakang memberikan dorongan). Relevansinya kekinian sebagai suatu bangsa yang lebih maju.
Keterkaitan tersebut Filosofi Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang "memerdekakan manusia" menemukan konteks barunya. Manusia yang merdeka hari ini adalah manusia yang tidak didikte oleh algoritma mesin, melainkan mereka yang mampu menggunakan teknologi tersebut sebagai alat bantu (co-pilot) untuk menciptakan inovasi sosial, sains, dan kemanusiaan.
Menurut Prof. Dr. Fauzi, M.Ag. Andit Triono, M.Pd. dalam bukunya “Dasar Dasar dan Teori Pendidikan”makna pendidikan kemudian bisa berarti luas dan bisa dimaknai secara sempit. Pendidikan dalam arti luas dipandang dari keseluruhan proses edukasi dalam keseluruhan aktifitas hidup dan kehidupan manusia. Sehingga dapat ditegaskan di sini bahwa hakikat pendidikan adalah semua upaya dalam rangka membantu dan menfasilitasi agar seluruh potensi yang dimiliki oleh setiap manusia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sehingga dapat menjalankan peran dan fungsinya sebagai manusia dalam seluruh tahapan kehidupannya. Adapun secara sempit pendidikan dapat dimaknai sebagai aktifitas mendidik yang dilaksanakan dalam lingkup institusi pendidikan tertentu yang didesain untuk memberikan akses layanan pendidikan bagi manusia, misal sekolah, madrasah, pesantren, dan lembaga- lembaga pendidikan lainnya yang dikembangkan oleh masyarakat.
Oleh karena itu lanjut pada pandangan ruang lingkup pendidikan secara luas. Karena penulis meyakini pendidikan adalah adalah proses utuh dalam kehidupan manusia dan aktivitas sehari hari sebagai manusia. Terkait Dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa tujuan pendidikan Nasional yaitu :
“Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menjadi warga Negara yang demokratis, serta bertanggung jawab. Tujuan pendidikan tersebut merupakan tujuan utama dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik dari segi spiritual, kognitif, afektif, emosi, sosial, dan kemandirian yang merupakan wujud kepribadian bangsa yang berkarakter”.
Dari situlah kita beranjak antara semboyan, tantangan, dalam konteks kekinian dalam dunia pendidikan nasional.
Perubahan kurikulum yang terjadi sekarang untuk menjawab tantangan zaman dengan segala bidang. Kemajuan teknologi merambah segala sendi kehidupan. Bagaimana kurikulum menjawab tantangan zaman, tetapi bukan berarti berubah ubah karena kepentingan kekuasaan semata. Tetapi apakah perubahan yang dilakukan masih terkait dengan akar Pendidikan Nasional yang selama ini dijadikan akar Pendidikan Nasioanal. Ini yang menarik untuk diulas masih relevankah akar pendidikan tersebut, atau Pendidikan Nasioanal sudah jauh dari akar tersebut.
Menarik penulis mencoba mengungkap antara akar sejati dunia Pendidikan Nasional dengan arti pendidikan secara luas, bahwa pendidikan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan pribadi, sosial, bangsa dan negara
1. Ing Ngarso Sung Tulodo (Di depan memberi teladan)
Suatu semboyang yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara yang melihat pilar ini sangat penting bukan hanya untuk dunia pendidikan sendiri, tetapi jauh lebih luas arti nya. Karena manusia sebagai personal maupun mahluk sosial, maupun sebagai warga negara, sangat dibutuhkan ada teladan dari guru dalam arti sempit, dari tokoh bangsa, pemimpin bangsa dalam arti luas. Setiap individu apalagi seorang pemimpin harus memberikan contoh suri tauladan, sebagai patron yang baik dan benar. Sebagai pemimpin di keluarga, masyarakat, apalagi sebagai pemimpin di tengah tengah masyarakat, pemimpin daerah, bahkan sebagai bangsa. Selain dari itu media menjamur memasuki setiap sendi kehiupan yang memudahkan arus informasi yang sangat gampang diakses setiap individu, sebagai warga negara. Disitulah peran media sebagai jembatan proses dari tidak tahu, menjadi tahu, yang lebih tahu bisa memahami yang sebenarnya. Disinilah kirannya media menginformasikan yang benar. Dan bagaimana peran pemimpin sebagai bagian pendidikan yang lebih luas.
Memberikan contoh, suri tauladan apa yang dikatakan, apa yang dilakukan dalam kepemimpinannya. Betulkah para pemimpin kita sebagai contoh suri tauladan yang baik, untuk diikuti, diteladani, ???
2. Ing Madyo Mangun Karso (Di tengah membangun semangat/karsa),
Dalam ruang lingkup pendidikan yang luas, salah satunya pilar adalah seseorang (guru, para pemimpin) hadir sebagai jembatan, jalan, membangkitkan semangat hidup untuk selalu berbuat terbaik untuk bangsa dan negaranya. Untuk membangun itu semua pemimpin bukan tampil untuk saling mengalahkan, menonjolkan perbedaan (yang penting berbeda). Untuk membangun semangat itu perlu kebersamaan yang utama, bukan perbedaan yang mengarah perpecahan. Semangat perlu dijaga selalu dengan merawat kebersamaan sebagai anak bangsa dan disinilah perlunya pemimpin menerima masukan dari berbagai pihak. Karena sesungguhnya bangsa dan negara milik bersama. Olehnya pemimpin dalam membangun semangat berbangsa dan bernegara harus mampu menerima kritikan dan masukan dan rasa aman, sejahtera sebagai anak bangsa. Toh juga sebagai warga negara yang peduli dengan keadaan. Memberikan semangat bukan hanya pidato memukau, pidato yang berapi-api, citra baik yang hanya sebatas layar kaca tetapi mampu memberikan ruang kesempatan kepada warganya untuk memberikan peran sekecil apapun. Pada titik yang sama semua punya kesempatan untuk berbuat terbaik dalam versinya masing masing.
3. Tut Wuri Handayani (Di belakang memberikan dorongan).
Dalam arti luas pendidikan di maknai (guru, para pemimpin) selalu tampil sebagai pendorong utama perubahan yang terjadi bukan bersifat menjatuhkan, mematahkan atas perubahan, upaya baik setiap warga negara. Dorongan bersifat verbal itu baik, akan lebih baik jika diikuti kedekatan emosional sebagai anak bangsa. Agar sebagai anak bangsa mampu terdorong, termotivasi untuk berlaku baik, membuat inovasi terbaru. Kadang pemimpin harus turun langsung dalam artian “hadir” secara fisik tetapi yang lebih penting “hadir” sebagai Panutan, contoh suri tauladan, pendorong semangat, dan keberpihakan kepada mereka yang diwujudkan kebijakan yang betul betul untuk kesejahteraan, tumbuhnya rasa aman dan damai
Sebagai kesimpulan pendidikan adalah tanggung jawab bersama, dari individu-individu, keluarga, lingkungan masyarakat, sampai pada pemegang kekuasaan ( eksekutif, legislatif, yudikatif) semua memegang peran penting dalam memajukan pendidikan. Pendidikan yang maju bukan hanya berkutak pada sekolah, perguruan tinggi, kurikulum, sarana dan prasarana, tetapi yang sangat penting masing masing mmepunyai tanggung jawab moral “Tiga semboyan tersebut adalah: Ing Ngarso Sung Tulodo (Di depan memberi teladan), Ing Madyo Mangun Karso (Di tengah membangun semangat/karsa), dan Tut Wuri Handayani (Di belakang memberikan dorongan).
Semoga bermanfaat!!!
Referensi :
• UU No. 11 Sistem Pendidikan Nasinal tahun 2022
• Dasar-Dasar Teori Pendidikan, oleh Prof. Dr. Fauzi, M. Ag, Andit Triono, M. Pd, 2021
• https://pendidikan-matematika.fmipa.unesa.ac.id/post/peringatan-hari-pendidikan-nasional-sejarah-makna-dan-refleksi-di-era-digital#sejarah-hardiknas

Komentar
Posting Komentar